Sisi Terang

Sebuah Blog Puisi

Badai Datang Setelah Percakapan

tanya tanya yang tak bisa kujawab kini menjadi kawat
kini menjadi karat yang memakan besi
duri duri menusuk urat, menghitung tawaf bumi 
kepada matahari

Jauh di Rimbun Malam

matahari senja melesak ke rongga matamu
gagak-gagak bercinta
di puncak pohon tua
mekar setangkai bunga

kuletakkan jantungku pada pangkuanmu
pada altar yang berbaju debu
agar berdetak meski sejenak

jauh di rimbun malam
serigala lapar melahap gelap

Buruh Pukul Tujuh


dalam pagi yang pelan mengangkat
mesin-mesin mulai menderu
membawa asap-karat
berangkat terburu
lalu kita beku
dari gerak
detak
ya
tujuh:
sepuluh
menunggu
berhimpit erat
kedua bahu muda
teraba nafas yang lambat
pertanda hidup kini semakin
                                               singkat.

Sebelum Waktu Mati Terbunuh

hari-hari datang berbaris

berbaju hitam dan

berteriak lantang

panah itu harus dilepaskan!

Pa Pa Pa

Patung patung patung patung pa tung pat ung tung pa tung plak tung bleng bles plak plak plak tung tung tung tung pang tung tang pung puk tang put tan tang tang tang tang!

Plung! 

Bulan

embrio siang
di rahim malam
perlahan hilang
ditelan awan

Horizontal

Tuhan,
mohon jangan beri tahu mereka
bahwa aku baru saja berbuat dosa

Tarian

aku tahu kausembunyikan senyummu
mengekang dengan diam
dalam sebuah tarian

aku dapat rasakan denyut jantungmu
irama, ketukan kaki
langkah-langkah singkat
berjingkat

serta tirai yang kaupasang
dalam ruang tersembunyi

Setitik Rindu, Bola Salju

biarlah ia melaju
menjadi besar, Sayang
menggilas kita dalam putaran
tenang, jangan menjerit

setitik rindu
lalu bola salju
kita bersua di kaki bukit

Dulu Tak Ada Ibu



bayangkan, ibu
aku muncul dalam perutmu

hingga kereta bayi
dinding warna-warni
balok-balok aksara
pisahkan kita berdua

bayangkan, ibu
aku di dalam kamu
kamu di dalam ibumu
kita adalah satu

ibu, aku rindu
hidup dalam rahimmu