Badai Datang Setelah Percakapan
tanya tanya yang tak bisa kujawab kini menjadi kawat
kini menjadi karat yang memakan besi
duri duri menusuk urat, menghitung tawaf bumi
kepada matahari
tanya tanya yang tak bisa kujawab kini menjadi kawat
kini menjadi karat yang memakan besi
duri duri menusuk urat, menghitung tawaf bumi
kepada matahari
matahari senja melesak ke rongga matamu
gagak-gagak bercinta
di puncak pohon tua
mekar setangkai bunga
kuletakkan jantungku pada pangkuanmu
pada altar yang berbaju debu
agar berdetak meski sejenak
jauh di rimbun malam
serigala lapar melahap gelap
dalam pagi yang pelan mengangkat
mesin-mesin mulai menderu
membawa asap-karat
berangkat terburu
lalu kita beku
dari gerak
detak
ya
tujuh:
sepuluh
menunggu
berhimpit erat
kedua bahu muda
teraba nafas yang lambat
pertanda hidup kini semakin
singkat.
hari-hari datang berbaris
berbaju hitam dan
berteriak lantang
panah itu harus dilepaskan!
Patung patung patung patung pa tung pat ung tung pa tung plak tung bleng bles plak plak plak tung tung tung tung pang tung tang pung puk tang put tan tang tang tang tang!
Plung!
embrio siang
di rahim malam
perlahan hilang
ditelan awan
Tuhan,
mohon jangan beri tahu mereka
bahwa aku baru saja berbuat dosa
aku tahu kausembunyikan senyummu
mengekang dengan diam
dalam sebuah tarian
aku dapat rasakan denyut jantungmu
irama, ketukan kaki
langkah-langkah singkat
berjingkat
serta tirai yang kaupasang
dalam ruang tersembunyi
biarlah ia melaju
menjadi besar, Sayang
menggilas kita dalam putaran
tenang, jangan menjerit
setitik rindu
lalu bola salju
kita bersua di kaki bukit
bayangkan, ibu
aku muncul dalam perutmu
hingga kereta bayi
dinding warna-warni
balok-balok aksara
pisahkan kita berdua
bayangkan, ibu
aku di dalam kamu
kamu di dalam ibumu
kita adalah satu
ibu, aku rindu
hidup dalam rahimmu